-->

Menelusuri Sejarah Ombak Bono Sungai Kampar

Gelombang Bono Sungai Kampar merupakan fenomena alam unik di Indonesia, tepatnya di muara sungai Kampar, yang mirip dengan Poporoca di sungai Amazon. Di poporoca, gelombang besar yang di hasilkan terjadi karena pasang laut Atlantik, sementara gelombang bono terjadi akibat benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran air Sungai Kampar.

Akibat benturan ini, menjadikan gelombang air di muara sungai Kampar bisa mencapai ketinggian 4-5 meter dengan ditandai sebelumnya dengan suara gemuruh yang hebat. Bahkan dari kejauhan suara ini terdengar begitu jelas. Uniknya lagi saat fenomena itu terjadi dalam beberapa hari, maka akan Anda temui selisih satu jam lebih lambat dari hari sebelumnya. Sebagai contoh, jika hari ini gelombang ini datang pada jam 11.00, besok muncul pada jam 12.00.

Gelombang Bono

Penduduk sekitar sudah menyaksikan fenomena alam ini sejak bertahun-tahun. Mereka yang tinggal di sekitar perairan Kampar, maupun masyarakat di Sumatera bagian tengah pada umumnya, mungkin sudah tak asing lagi dengan fenomena ini. Kabarnya, gelombang ini setiap tahunnya memakan korban puluhan orang. Bahkan bono pernah menelan kapal berukuran 20 meter, yang bermuatan 5 excavator pc200 (yang masing-masingnya 20 ton). Dan kapal ini langsung lenyap sekejap, habat bukan keganasan gelombang ini.

Seperti halnya fenomena poporoco, di sungai Amazon yang akhirnya menarik surfer untuk menunggangi ombaknya, bono pun juga demikian. Beberapa surfer dari luar negeri memutuskan menuju tempat terpencil di pedalaman hutan ini, melakukan surfing dan mengabarkan ke khalayak dunia.

“A dreamlike wave found in an Indonesian river is stunning surf world (sebuah gelombang impian yang ditemukan di salah satu sungai di Indonesia memukau dunia selancar)”, tulis Chris Mauro di judul tulisannya, seperti dimuat GrindTV.com. Tulisan Mauro itu sendiri lantas merujuk pada apa yang ia sebut ‘penemuan luar biasa’ oleh tim (ekspedisi) Rip Curl baru-baru ini, yang menurutnya "mungkin tak tertandingi”.


“Apa yang membuat penemuan gelombang terakhir ini sangat memukau adalah bahwa ia (gelombang itu) tidak terjadi di garis pantai atau pulau, namun di sebuah sungai rimba terpencil yang dibuat berlipat oleh sebuah kekuatan gelombang (tidal bore) luar biasa,” tulis Mauro lagi di salah satu bagian catatannya.

“Ini adalah pencapaian terbesar kami sepanjang 20 tahun eksplorasi,” ungkap Tom Curren, mantan juara dunia surfing tiga kali, sebagaimana dikutip oleh Mauro pula dalam artikelnya mengenai ekspedisi di gelombang besar yang sebenarnya cukup sering memakan korban itu.

Kesulitan melakukan selancar di muara sungai Kampar adalah kondisi airnya yang berlumpur. Tentunya hal ini sangat membahayakan jika sewaktu-waktu surfer terseret arus gelombang dan masuk ke dalamnya. Mungkinkah Anda, orang Indonesia pertama yang akan menunggangi ombaknya?

Sumber: http://www.djarum-super.com
LihatTutupKomentar